header-int

Mengaca pada Kisah Nabi Sulaiman

Selasa, 05 Mar 2019, 12:14:24 WIB - 156 View
Share
Mengaca pada Kisah Nabi Sulaiman

Mengaca pada Kisah Nabi Sulaiman

Allah dalam Al-Quran menyatakan bahwa apa saja yang berada di langit maupun yang berada dibumi, apapun itu selama dia merupakan makhluq maka sesungguhnya dia bertasbih menyucikan tuhan. “Apa saja yang berada dilangit maupun dibumi, bertasbih pada Allah, dan Dia-lah dzat yang Maha Agung lagi Maha Bijaksana”

Ada beberapa ayat yang di firmankan oleh Allah yang semkna dengan ayat diatas. hal ini menjadikan sebuah penegasan bahwa semuanya sedang melakukan tasbih kepadanya, terlepas dengan cara apa masing-masing mereka melakukan itu dengan cara apa dan bagaimana sebab dalam ayat yang lain yang semakna dengan ayat diatas Allah menyatakan bahwa:

“Dan tak ada suatupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka” -(QS: Al-Isra ayat 44)-

Namun sebagian Ulama’ menyatakan bahwa ketaatan para makhluq atas apa yang telah dituliskan oleh Allah dalam suratan takdir yang tertulis di Lauh Mahfudz, pada dasarnya itulah cara mereka bertasbih. suara yang dihasilkan oleh pulpen jatuh kelantai, cahaya yang dihasilkan oleh api. apapun itu selama tidak melanggar apa yang telah Allah tulis, sesungguhnya mereka sedang bertasbih.

lantas bagaimana dengan manusia yang telah diberi mulut dan hati oleh oleh Allah? nampaknya hati dan mulut kita sering lalai untuk mengingat dan bertasbih menyucikan Allah tuhan semesta alam. memang, benar bahwa Nabi Muhammad pernah bersabda bahwa manusia merupakan tempatnya lupa dan salah. namun setidaknya kita harus mengambil sikap yang tegas untuk diri kita sendiri agar lupa dan salah itu tidak menjadi sebuah kebiasaan buruk.

dalam masalah bertasbih ini, Allah telah memberikan contoh dalam Al-Quran melalui kisah Nabi Sulaiman ayatnya berbunyi:

 

Artinya : “ (ingatlah) ketika dipertunjukkan kepadanya kuda-kuda yang tenang di waktu berhenti dan cepat waktu berlari pada waktu sore (31) maka ia berkata: "Sesungguhnya aku menyukai kesenangan terhadap barang yang baik (kuda) sehingga aku lalai mengingat Tuhanku sampai kuda itu hilang dari pandangan" (32) "Bawalah kuda-kuda itu kembali kepadaku". Lalu ia potong kaki dan leher kuda itu (33)”

Dalam kitab Tafsir Jalalin di katakana bahwa ????????????? merupakan kuda yang ketiga kakinya berpijak pada bumi sedang satu kaki yang lain berpijak dengan kukunya yang dalam lanjutna ayat yang berbunyi ?????????? yang berarti kuda terbaik yang akan selalu siap untuk seketika berlari dan seketika pula berhenti.

Ayat ini menceritakan kisah Nabi Sulaiman yang suatu hari selepas melaksanakan Sahalat Dzuhur, beliau di perlihatakan dengan seribu kuda yang dipersiapkan untuk berjihad menghadapi musuh. Satu persatu beliau mengecek kondisi kuda-kuda terbaik yang berjumlah seribu tersebut hingga pada hitungan ke Sembilan ratus matahari hampir terbenam sedangkan beliau belum juga melaksankan solat Ashar. menyadari hal itu, seketika beliau merasa sedih hingga beliaupun berkata “Sesungguhnya aku menyukai kesenangan terhadap barang yang baik (kuda) sehingga aku lalai mengingat Tuhanku sampai matahari itu hilang dari pandangan (lupa waktu)”

untuk mengatasi akan kejadian melalaikan tugas untuk Shalat (bertasbih) itu terulang kembali dengan tegas Nabi Sulaiman memerintakahkan untuk mendatangkan Kuda-Kuda terbaik itu untuk di potong kaki dan lehernya.

dari kisah ini, terdapat sebuah ibrah yang sangat penting bagi manusia zaman ini. betapa pentingnya kita mengambil tindakan yang tegas untuk hal-hal yang secara sadar telah melalaikan kita akan tugas bertasbih kepada Allah. sudahkah kita membaranikan diri untuk tidak membuka gadget untuk satu hari saja? tindakan tegas yang bertujuan untuk mengakhiri kelalaian akan kewajaiban adalah kuncinya. sebagaimana sikap Nabi Sulaiman diatas. semoga bermanfaat. []

by santrikiri        

 

Link Youtube >> Mengaca pada Kisah Nabi Sulaiman

Al-Hikam Media Center

AL-HIKAM Pondok Pesantren Al-Hikam resmi berdiri pada 17 Ramadan 1413 bertepatan dengan 21 Maret 1992. Sebagai pelopor pesantren khusus mahasiswa, lembaga pendidikan Islam ini memiliki tujuan memadukan dimensi positif perguruan tinggi yang menekankan pada ilmu pengetahuan dan teknologi dengan dimensi positif pesantren yang akan menjadi tempat penempaan kepribadian dan moral yang benar.
© 2016 - 2019 Pesantren Al-Hikam Malang Follow Pesantren Al-Hikam Malang : Facebook Twitter Linked Youtube