header-int

Mendedah Makna Sinn: Cara Drs. K.H. Moh. Nafi Mengajarkan Nilai Sebuah Umur

Minggu, 05 Jul 2026, 22:35:34 WIB - 3 View
Share
Mendedah Makna Sinn: Cara Drs. K.H. Moh. Nafi Mengajarkan Nilai Sebuah Umur

Al-Hikam (AMC.) - Waktu bergulir tanpa pernah meminta izin, meninggalkan jejak pada setiap makhluk yang bernapas. Di tengah hiruk-pikuk kehidupan yang serba cepat dan sering kali melenakan, sebuah renungan meneduhkan datang dari Pengasuh Pesantren Mahasiswa Al-Hikam, KH. Moh. Nafi'. Melalui kacamata kebahasaan dan spiritualitas, beliau mengajak kita berhenti sejenak untuk menyelami makna filosofis tentang kehidupan melalui sepotong kata dalam bahasa Arab: Sinn.

Dalam kajian linguistik Arab, kata ???? (sinn) memiliki keunikan tersendiri. Kata ini secara harfiah dapat diartikan sebagai "gigi", namun dalam konteks dan penggunaan lain, sinn juga bermakna "usia" atau "umur".

Secara kebahasaan, pertautan kedua makna ini bukanlah sebuah kebetulan. Dalam tradisi masyarakat Arab kuno umur seekor hewan sering kali diidentifikasi melalui kondisi giginya. Gigi menjelma menjadi penanda mutlak bagi usia.

Namun, KH. Moh. Nafi' menarik makna literal ini ke dalam ruang perenungan yang jauh lebih dalam dan esensial bagi umat manusia.

Secara biologis, gigi diciptakan oleh Sang Pencipta untuk merobek dan mengunyah makanan agar metabolisme tubuh berjalan dan kehidupan terus berlangsung. Di sisi lain, usia seolah menjadi "gigi" bagi eksistensi kita di dunia.

Setiap detik yang berdetak dan berlalu sejatinya sedang "mengunyah" jatah umur yang telah ditakar oleh Allah. Ada sebuah kesadaran kosmis yang sering dilupakan manusia: bukan hanya kita yang sedang menghabiskan waktu, tetapi pada hakikatnya, waktu jualah yang sedang menghabiskan kita sedikit demi sedikit.

Pemahaman tentang urgensi waktu ini selaras dengan ajaran para ulama terdahulu. Imam Ibn 'A??'ill?h as-Sakandari, dalam kitab monumentalnya Al-?ikam, memberikan sebuah pengingat tegas tentang bagaimana seharusnya manusia bersikap terhadap waktu yang dimilikinya. 

Beliau menuturkan, «????????? ??? ?????? ?????» yang berarti, "Waktu adalah keadaan yang sedang engkau jalani saat ini."

Dari kedalaman pemahaman inilah lahir sebuah istilah penting dalam ranah tasawuf dan fikih: ?????????? ????????? (w?jib?t al-waqt), yakni kewajiban-kewajiban atau amal yang dituntut oleh waktu yang sedang kita jalani saat itu juga.

Tidak semua jam dan menit memiliki nilai yang sama persis. Para ulama sering menyebutkan bahwa ada waktu yang sekadar menjadi rutinitas harian yang lewat begitu saja. Kenyataan inilah yang menjadi alasan logis mengapa orang-orang saleh di masa lampau memiliki ketakutan yang luar biasa terhadap waktu yang terbuang sia-sia, bahkan jauh melebihi ketakutan mereka kehilangan harta benda.

Harta yang hilang, dicuri, atau habis, masih sangat mungkin dicari dan diganti di kemudian hari. Namun, satu detik saja umur yang telah "digigit" oleh waktu, ia akan lenyap tertelan keabadian dan tidak akan pernah kembali. Pada akhirnya, renungan tentang sinn ini bermuara pada satu harapan besar. Semoga setiap usia yang terus bertambah, benar-benar diisi oleh amal kebaikan dan karya yang bermanfaat, sebelum seluruh sisa usia itu habis "dikunyah" oleh waktu.

"Gigi mengunyah makanan agar tubuh tetap hidup. Waktu mengunyah usia agar kita segera menyadari: hidup ini ada batasnya."

AL-HIKAM Pondok Pesantren Al-Hikam resmi berdiri pada 17 Ramadan 1413 bertepatan dengan 21 Maret 1992. Sebagai pelopor pesantren khusus mahasiswa, lembaga pendidikan Islam ini memiliki tujuan memadukan dimensi positif perguruan tinggi yang menekankan pada ilmu pengetahuan dan teknologi dengan dimensi positif pesantren yang akan menjadi tempat penempaan kepribadian dan moral yang benar.
© 2016 - 2026 Pesantren Al-Hikam Malang Follow Pesantren Al-Hikam Malang : Facebook Twitter Linked Youtube