header-int

Mengapa Memuliakan Al-Quran?

Selasa, 05 Mar 2019, 12:21:38 WIB - 1088 View
Share
Mengapa Memuliakan Al-Quran?

Mengapa Memuliakan Al-Quran?

Dalam konstelasi teologi islam, sifat dan dzat tuhan merupakan satu kesatuan yang tidak bisa dan tidak dapat dipisahkan. Sehingga tuhan yang memiliki shifat mendengar (Sama’) tidak bisa dipisahkan dari dzatiah Tuhan itu sendiri. Berebeda dengan apa yang ada dalam diri manusia yang bisa mendengar jika memiliki telinga, dan itupun jika berfungsi.

Termasuk dalam lingkaran ini adalah shifat tuhan yang berfirman (kalam) dan pengejawantahan paling nyata dari shifat tuhan ini adalah adanya Al-Quran. Yang jika membacanya harus dengan rasa penghormatan dan penuh penhayatan. Mengapa hal ini harus diperhatikan? Dalam kitab mursyidul amin dijelaskan :

“Seharusnya pembacaan Al-Qur’an itu dilakukan dengan cara yang penuh penghormatan dan pengahyatan. Karena sesungguhnya allah SWT melembutkan pada makhluqnya dari arsy kepada derajat pemahaman makhluqnya hingga makna firmanya yang merupakan sifat dzatnya dapat sampai bagi pemahaman makhluqnya.”

Lantas mengapa sifat dzat allah ini berbentuk huruf dan bersuara? Bukankah seharusnya sifat dzat allah berbeda dengan makhluqnya yang berhuruf dan bersuara? Dalam kitab mursyidul amin dijelaskan :

“Seandainya tidak tersembunyi bentuk keindahan firman allah dengan satir berupa huruf maka tidak akan bisa untuk didengar firman arsy dan tidak akan berbekas. Dan akan musnah kemuliaan kerajaannya serta keagungan cahayanya.”

“Seandainya allah tidak menetapkan hal yang sama pada Nabi Musa AS. Maka tidak mungin kuat mendengarkan firmannya. Sebagaimana gunung yang hancur lebur karena tidak kuat menerima pengejawantahan firman  yang pertama.”

Dari kedua pembahasan ini; alasan mengapa membaca Al-Quran harus menggunakan penghormatan sekaligus penghayatan, dan mengapa firman Tuhan ter-ejawantah-kan dalam bentuk huruf dan bersuara. Imam Al-Ghazali menjelasakan bahwa:

“Maka dengan hal ini, kemuliaan (Allah) hadir dihatinya dan mengiringi pembacaan Al-Qur’an. Dan dia akan merasa bahwa sesungguhnya Tuhan sedang mengajaknya berbincang.”

Wallahu A’lam
 

by santrikiri        

 

Al-Hikam Media Center

AL-HIKAM Pondok Pesantren Al-Hikam resmi berdiri pada 17 Ramadan 1413 bertepatan dengan 21 Maret 1992. Sebagai pelopor pesantren khusus mahasiswa, lembaga pendidikan Islam ini memiliki tujuan memadukan dimensi positif perguruan tinggi yang menekankan pada ilmu pengetahuan dan teknologi dengan dimensi positif pesantren yang akan menjadi tempat penempaan kepribadian dan moral yang benar.
© 2016 - 2019 Pesantren Al-Hikam Malang Follow Pesantren Al-Hikam Malang : Facebook Twitter Linked Youtube