Al-Hikam (AMC.) - Wakil Wali Kota Malang, Bapak Ali Muthohirin, menekankan urgensi peran santri dalam mengisi pos-pos strategis kepemimpinan nasional maupun daerah. Pernyataan tersebut disampaikannya saat hadir sebagai pemateri utama dalam kegiatan Tanbih Al’Am (Nasihat Umum) di Pesantren Mahasiswa Al-Hikam Malang, Sabtu (6/12/2025) malam. Mengusung tema "Santri Masa Kini, Pemimpin Masa Depan", forum ini menjadi ajang refleksi kesiapan generasi muda pesantren menghadapi tantangan global.
Dalam paparannya, pria yang akrab disapa Mas Ali ini membuka wawasan para mahasantri dengan data proyeksi Indonesia Emas 2045. Ia memaparkan bahwa dua dekade mendatang, Indonesia diprediksi menjadi negara maju yang menempati posisi lima besar kekuatan ekonomi dunia.
"Jumlah penduduk kita diproyeksikan mencapai 319 juta jiwa, dengan 47 persen di antaranya berada pada usia produktif dan 70 persen masuk kategori kelas menengah. Ini adalah bonus demografi yang luar biasa, namun juga bisa menjadi bencana jika tidak dikelola dengan kualitas SDM yang mumpuni," ujarnya.
Mas Ali menyoroti paradoks yang terjadi saat ini, di mana tingginya angka lulusan perguruan tinggi (S1 dan S2) justru berbanding lurus dengan angka pengangguran. Menurutnya, fenomena ini terjadi karena banyak generasi muda yang terjebak pada label "Gen Z" dan merasa cukup dengan gelar akademik, namun minim kompetensi unggul. Di sinilah ia menantang para santri Al-Hikam untuk tidak hanya menjadi penonton, melainkan menumbuhkan kesadaran baru untuk memenangkan persaingan global.
"Santri punya karakter, kedisiplinan, dan prinsip washatiyah (moderasi) yang kuat. Sejarah membuktikan, mulai dari Resolusi Jihad hingga hari ini, kiai dan santri selalu menjadi garda terdepan mengawal karakter bangsa. Nilai-nilai pesantren inilah yang seharusnya menjadi fondasi dalam merumuskan kebijakan publik," tegasnya.
Dengan nada rendah hati beliau mengungkapkan, bahwa realitas sosial itulah yang mendorong dirinya untuk terjun ke dunia politik praktis. Ia ingin memastikan bahwa nilai-nilai kebaikan yang diajarkan di pesantren dapat ditransformasikan menjadi kebijakan yang solutif bagi masyarakat.
Mas Ali menegaskan bahwa santri adalah entitas yang berbeda. Dengan pedoman keislaman yang kuat, santri diharapkan menjadi agen perubahan peradaban yang aktif. Ia mengajak seluruh elemen Pesantren Al-Hikam untuk bersinergi dalam pembangunan daerah, sejalan dengan visi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kota Malang 2025–2029 menuju "Malang Mbois dan Berkelas".
Penulis: Citra Cantika
Fotografer: Khoirul Mahmudi
Editor: Muh. Noaf Afgani

Pondok Pesantren Al-Hikam resmi berdiri pada 17 Ramadan 1413 bertepatan dengan 21 Maret 1992. Sebagai pelopor pesantren khusus mahasiswa, lembaga pendidikan Islam ini memiliki tujuan memadukan dimensi positif perguruan tinggi yang menekankan pada ilmu pengetahuan dan teknologi dengan dimensi positif pesantren yang akan menjadi tempat penempaan kepribadian dan moral yang benar.