Al-Hikam (AMC.) – Sebuah janji setia yang tertanam sejak tahun 2000 akhirnya menemui muaranya saat Pesantren Digipreneur Al-Yasmin Surabaya menyambangi Pesantren Mahasiswa (Pesma) Al-Hikam Malang pada Senin, 11 Mei 2026. Kedatangan H. Helmy Muhammad Noor, Founder Al-Yasmin, bukan sekadar kunjungan silaturahmi formal, melainkan momen emosional seorang "khadam" yang datang untuk menunaikan mandat langit dari gurunya, almagfurlah K.H. Hasyim Muzadi. Dengan penuh takzim, Pak Helmy mengisahkan bagaimana perjalanan hidupnya dibentuk oleh rekaman kaset dari setiap ceramah Abah Hasyim yang ia abadikan. Dari kedekatan itulah, muncul sebuah dawuh yang menjadi kompas hidupnya: "Hel, tekunono opo sing mbok lakoni saiki, insyaallah dadi penguripan" (Hel, tekuni apa yang kamu lakukan sekarang, insyaallah jadi penghidupan). Pesan untuk fokus pada dunia dokumentasi dan penyuntingan itu kemudian disempurnakan dengan perintah kedua yang menjadi fondasi berdirinya Al-Yasmin, yakni kewajiban untuk menularkan ilmu tersebut kepada santri lain ketika kesuksesan telah diraih.
Pak Helmy mengakui bahwa Al-Yasmin lahir dari ketaatan mutlak untuk mencetak santri yang tidak hanya mahir mengaji, tetapi juga berdaya secara ekonomi melalui jalur digipreneur. Ia menekankan bahwa bekal dari Abah Hasyim dan Ibu Nyai bukan sekadar soal teknis, melainkan pelajaran tentang kehidupan dan jam'iyah, termasuk pentingnya menjaga penampilan serta kecakapan public speaking sebagai representasi kualitas santri. "Jika bukan karena bimbingan beliau berdua, saya bukanlah siapa-siapa. Saya hanya menjalankan mandat untuk menjadikan Al-Yasmin sebagai jembatan bagi santri agar hobi digital mereka bisa bertransformasi menjadi profesi yang mandiri," ungkapnya. Keyakinan ini semakin mantap setelah ia melakukan sowan ziarah, menyadari bahwa apa yang pernah disampaikan Abah Hasyim saat di India dahulu adalah isyarat nyata tentang misi besar menularkan ilmu teknologi kepada generasi pesantren.
Gayung bersambut, Pengasuh Pesma Al-Hikam, K.H. Drs. Mohamad Nafi’, memberikan apresiasi tinggi terhadap langkah berani Al-Yasmin dalam memadukan pilar Pesantren, Digital, dan Entrepreneur. Di tengah ancaman disrupsi Artificial Intelligence (AI) yang kian masif, Abah Nafi' menegaskan bahwa pesantren berbasis digital adalah kebutuhan mendesak agar santri tetap relevan dengan zaman. Ia menilai kehadiran Al-Yasmin menyempurnakan konsep Al-Hikam dengan memberikan bekal kewirausahaan digital yang nyata. Sinergi antara Surabaya dan Malang ini pun diresmikan melalui penyerahan cindera mata, sebuah simbol kuat bahwa semangat "Amaliah Agama, Prestasi Ilmiah, dan Kesiapan Hidup" siap melahirkan generasi digipreneur masa depan yang tangguh secara teknologi namun tetap kokoh dalam jati diri pesantren.
Penulis: Citra Cantika Nurwindya

Pondok Pesantren Al-Hikam resmi berdiri pada 17 Ramadan 1413 bertepatan dengan 21 Maret 1992. Sebagai pelopor pesantren khusus mahasiswa, lembaga pendidikan Islam ini memiliki tujuan memadukan dimensi positif perguruan tinggi yang menekankan pada ilmu pengetahuan dan teknologi dengan dimensi positif pesantren yang akan menjadi tempat penempaan kepribadian dan moral yang benar.